Selasa, 22 Mei 2012

MIMPI ANAK DESA



 Oleh : Syukran amien                                                                             
24 tahun Silam merupakan Awal permulaan ia menorehkan Cerita Hidup didunia ini. Lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Sembilan bersaudara cukup membuat Ayahnya harus kerja keras mencari penghidupan bagi anak-anaknya. Impian kedua Orang tua ingin melihat anaknya kelak menjadi orang berguna merupakan harga mati untuk mereka berdua. Apapun yang mereka lakukan yang penting anaknya bisa sekolah.
Waktu terus berjalan, tak terasa Syukran Amien anak Keempat dari pasangan Muh. Yakub dan Sarinah ini Sudah menjadi mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi Swasta disulawesi selatan. Itupun berkat dari program pemerintah setempat untuk mengirimkan putra-putri daerah untuk melanjutkan studi diluar kota. Dan Syukran begitu sapaan yang biasa dipanggil oleh temen-temannya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang terseleksi untuk melanjutkan kulyahnya. Rasa syukur yang tak terbatas selalu dipanjatkan kedua orang tuanya kepada Tuhan atas segala prtolongannya, karena melalui program pemerintah tersebut anak-anaknya mampu melanjutkan sekolah. Karena sebelum adanya program tersebut Syukran Amien sempat menganggur karena tak adanya dana untuk melanjutkan pendidikannya.Umumnya mahasiswa yang lain. Disamping disibukkan oleh berbagai tugas kampus. Syukran juga aktif dalam berbagai kegiatan-kegiatan social kemasyarakatan dan social kemahasiswaan yang ada disekitar kampusnya, baik itu yang tergabung dalam Organda (organisasi Daerah) Maupun Organisasi Kemahasiswaan. Berangkat dari keinginannya yang keras untuk dapat selangkah lebih maju dari masa lalunya, maka dengan motifasi itu pula Ia selalu melahap apa saja bentuk proses selama itu dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Dinamika hidup terus berjalan seiring putaran waktu, kepahitan, kesedihan, merupakan hal yang sudah dianggap sebagai teman yang paling akrab untuknya dalam menjalani semua proses itu. Godaan Lingkungan yang berat merupakan hal yang tersulit untuk ia hindari, maklum karena memang dia dilahirkan sebagai anak desa yang kolot, Latar belakang pendidikannya dipesantren selama 6 tahun, membuat ia sedikit kaku ketika disodorkan hal-hal yang berbau hedonistik dan Hura-Hura, dan tak jarang pula ia harus terbawa arus lingkungannya karena tak mampu lagi bertahan. Bersenang-senang dengan teman, pacaran dan hal-hal yang lain pernah dia lakukan, karena mungkin seperti halnya anak panah yang lepas dari busurnya ketika seorang anak desa yang kolot, tiba-tiba diperhadapkan dengan hiruk-pikuk dunia yang serba hedonistik, pragmatis dan materialistik. Sehingga timbul ketimpangan perfikir dan bersikap dalam dirinya.
Kini Syukran Sudah hampir menyelesaikan kulyahnya. Tidak terasa sudah 4 tahun dia hidup ditanah bugis menuntut ilmu, bermacam dinamika salama jadi mahasiswa sudah pernah dia rasakan, dulunya dia hanya menonton diTV aksi-aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa menetang kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat, kini ia telah merasakan semua itu. Ikut aksi merupakan hobbinya, dan pada saat itu yang ada difikirannya bukan hasil dari aksi itu yang mau dia cari, tapi tak lebih dari penguatan mental dan karakter yang ingin dia dapatkan, sampai juga akhirnya dipercaya menjadi koodinator aksi. Tidak terlepas dari keinginan kerasnya untuk selangkah lebih maju dalam pengembangan diri itu pula, dia berusaha menunjukkan eksistensinya ditengah mahasiswa lainnya, Dia tidak pernah memikirkan jika nanti ia harus gagal, tapi yang ada di fikirannya bagaimana kemudian dia mampu belajar dari proses-proses  yang ada. Itu berawal dari pencalonanya untuk maju menjadi Ketua Umum diorganisasi daerahnya Ikatan Pelajar Mahasiswa As’Adiya Paser (IPMAP KALTIM) dan akhirnya gagal hanya mampu menempati posisi wakil ketua, selanjutnya maju lagi pada pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM STAI As’adiyah) dan berujung gagal pula dan Terpilih menjadi anggota MPM (Majlis Permusyawaratan Mahasiswa), berselang beberapa waktu ia mencalonkan diri lagi menjadi ketua umum di salah satu organisasi kebanggaannya yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cab, Wajo dan lagi-lagi dia harus gagal. Dan akhirnya kini dia bisa tenang sebagai ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) cab. Wajo.Dari berbagai proses itu pula dia banyak belajar bagaimana arti dari kehidupan, bagaimana pentingnya berproses, bahwa untuk menjadi seorang pemenang itu tidak hanya sekedar punya wacana, tapi aksi juga tidak kalah penting, bagaimana kita mampu bersosialisasi dengan baik dengan orang yang ada disekitar kita, dan satu lagi basis ekonomi yang kuat merupakan salah satu penunjang besar dari proses itu, karena ada istilah uang adalah segalanya dan tidak semuanya juga karena uang.Sengkang 25 Juni 2011      kini saat yang dinantikan tiba juga, harapan untuk bisa mengabdi untuk tanah kelahirannya tercapai meski baru memulai, bermula dari harapan besar ingin membesarkan PMII layak PMII di luaran sana, meski dia tahu kalau ini berat, karna situasi yang sangat kondusif membuat mahasiswa lebih cendrung fragmatis dan hedonistik, dan ini merupakan tantangan tersendiri baginya. dengan satu keyakinan bahwa tak ada yang tak mungkin. dengan ucapan Bismillah dia terima amanah dari para senior dan kader PMII Paser untuk bisa melanjutkan perjuangan...
Jayalah PMIIku...Tana Paser, 16 April 2012
bersambung....

Ilmu dan Bakti Kuberikan, Adil Dan Makmur Kuperjuangkan..